masa lalu Sujono Hadi Sudarno

Bersama Ibunda Tercinta

KENANGAN MASA LALU

Mas Jono mempunyai teman-teman TK yang bertempat di rumah Kakeknya. Kebiasaan di TK, tiap 6 bulan mengadakan pesta dengan membawa makanan dari rumah masing-masing. Sujono HS kecil selalu mendapatkan giliran pertama untuk memilih makanan mana yang mau dimakan karena terpilih gurunya memimpin doa. Saya masih ingat sekali, sampai saudaraku seTK yang saat ini berprofesi sebagai tentara, terpingkal-pingkal sewaktu berjumpa dan menceritakan masa lalu.

Hal tak terlupakan sewaktu SD adalah renang di guyangan dan kanal (sungai berair coklat) bersama kerbau. Ceritanya begini, saat itu, saya sangat menikmati angon kerbau. Kebetulan keluargaku mempunyai kerbau beberapa dan saya diam-diam naik kerbau di siang hari habis sekolah untuk dimandikan. Jadi kerbaunya dimandikan, saya juga mandi sekalian, hehe. Tidak heranlah, saya pandai berenang sampai sekarang ini, tanpa harus melakukan training terlebih dahulu. Hal ini juga secara tidak langsung membantuku lulus tes renang sewaktu di perusahaan minyak.

Lain SD lain SMP. Sejak SD dan SMP saya ini juara umum sekolah dan katanya ganteng namun pendiam. Singkat kata, suatu saat Ayah saya yang Carik, (sekarang Sektretaris desa), memanggilku untuk menemani bertemu tamu besar yang bawa mobil. Saya kaget, ternyata yang dating Pak Camat dengan anaknya perempuan, yang teman saya di SMP. Sontak saya lari terbirit-birit dan bersembunyi di WC yang letaknya di belakang rumah. Maklumlah anak-anak. Lucunya, samapai sekarang jadi teman baik saya di grup BBM SMP yang dikenal ILUSI 82. Teman-teman SMP pernah mengadakan reuni di rumah saya yang di Bogor.

Sewaktu SMA, waktu saya isi dengan belajar belajar dan belajar. Semasa SMA saya seorang pendiam dan tergolong daerah karena berasal dari Maospati. SMAN 2 Madiun saat itu terkenal dengan banyak anak pintar dan terkenal, jadi banyak siwa berasal dari berbagai daerah sekitar Madiun, seperti Magetan, geneng, Maospati, Pacitan, Ngawi, Caruban dll. Saya seorang pendatang dari SMPN 1 Maospati yang masuk tes dengan nilai yang cukup tinggi. Alhamdulillah, Mas Jono, yang wong ndeso selalu mampu meraih juara Umum. Sesuatu yang membanggakan. Amieeennn. Dalam hatiku saat itu, hanya 1 profesi yang ingin saya jalani, yaitu penerbang. Saya termakan omongan Om saya, yang saat itu menjadi penerbang F5E. Rasanya bangga melihat fotonya dengan tegap dan dibelakangnya pesawat tempur dan ceritanya yang sering ke luar negeri. Sewaktu kelas 3, bencana itu tiba, yaitu persiapan tes AKABRI. Saya difonis kacamata minus!!!.  Habislah cita-cita menjadi penerbang, namun saya mendapat ilham akan keseriusan memperjuangkan cita-cita, sekalipun saat itu di desa Ngujung, Maospati belum ada listrik.

Satu hal lain yang tidak terlupakan dan hingga saat ini terus berkawan adalah kenyataan yang saya tidak sadari. Ternyata, banyak teman-teman  siswi SMA 2 Madiun (SMADA)  yang ngefan dengan saya. Namun itu baru sadar setelah munculnya teknologi Blackberry. Rasanya kepingin kembali ke masa SMA saja. Hehe. Hubungan baik demikian yang menuntun saya menjadi banyak teman dan masih terjalin hingga saat ini.

Pengalaman sekolah di UI yang tak terlupakan ada 2 yaitu tentang SM grup dan naik kereta bersama Johan Budi SP Jubir KPK. Angkatan saya 1985 merupakan tahun pertama kampus UI Depok dibuka dan sebagai orang daerah perlu ngontrak rumah untuk tempat belajar. Tempat saya kontrak berupa 1 rumah dan ditempati 8 orang. Banyak teman-teman lain kalau ingin belajar biasa berkunjung ke kontrkan saya dan mereka rupanya mengamati, saya dan teman lain menu makannya pagi siang sore adalah supermie. Jadilah kontrakan rumah mahasiswa hingga sekarang disebut SM grup, singkatan dari supermie grup, untuk menggambarkan betapa parahnya orang daerah yang sedang menimba ilmu di Ibukota.

Bagi mahasiswa daerah, waktu liburan lebaran adalah hal yang ditunggu-tunggu dan terpikir untuk mendapatkan sangu dari kerabat daerah. Jadilah saya dan Johan Budi Sp, yang sekarang menjadi jubir KPK, pulang bersama. Maklum Jobud (biasa saya panggil)  juga berasal dari daerah Mojokerto. Tiket kereta yang bisa saya beli saat itu hanya kereta Matar Maja, ekonomi tanpa AC. Naiklah saya berdua dan until-untelan mendapatkan kursi duduk. Namanya nasib, rupanya banyak ibu-ibu juga pulang kampong di 1 gerbong. Jadilah Jobud dan saya mengalah. Dikarenakan panasnya kereta, saya membuka kaos sepanjang perjalanan pulang mudik. Johan Budi hanya bias memandangiku sambil senyum-senyum saja. Saat itu sih senang-senang saja, kalau sekarang mungkin sudah langsung masuk angin. Pengalaman yang tak terlupakan.

Teman-teman saya, khususnya SMP SMA UI dan Prasetya Mulya, mendukung penuh rencana saya maju menjadi anggota DPR RI dari PPP. Mereka berucap “Saya tidak peduli partainya, selama Mas Jono yang maju, support full”. Subhanalloh…membuat saya terharu.

Advertisements

2 thoughts on “masa lalu Sujono Hadi Sudarno

  1. Alur ceritanya sangat menarik dari bocah ndeso menjadi orang sukses.
    Saya yakin banyak cerita yang belum terungkap krn saya belum tertulis dalam cerita tersebut hee….he….semoga kesederhanan tetap terjaga
    Hidup Sekali Hiduplah Yang Berarti

    Cak Mad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s